.

Archive

.

.

Follow Me

.

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Apa Benar Membawa Sial Jika Tidak Sengaja Menabrak Kucing?




Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.
Salam hangat buat pembaca, terkadang kita sering mendengar di tengah masyarakat bahwa jika kita menabrak kucing di jalan dan kucing tersebut mati kita harus mengurus dan mengubur kucing tesebut karena akan membawa sial buat kita, apa benar demikian?

Memang di masyarakat kita berkembang mitos yang tidak jelas dasarnya, yaitu kewajiban orang yang menbarak kucing untuk mengubur jasad kucing. Kalau tidak, maka akan ada nasib sial yang membayanginya.

Dalam pandangan Islam, mengasihi hewan adalah merupakan perintah agama. Menyiksa hewan secara sengaja akan melahirkan dosa di mata Allah. Sebaliknya berbuat baik kepada hewan akan mendatangkan pahala. Sebagaimana hadits tentang seorang yang memberi minum anjing kehausan dan masuk surga karena perbuatannya itu.

Dari Abi Hurairah ra dari Rasulullah SAW berabda,"Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, "Anjing ini hampir mati kehausan". Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari).

Dalam syarah shahih bukhari yaitu kitab Umdatul Qari jilid 15 halaman 277 disebutkan bahwa dia antara faedah hadits ini adalah diterimanya amal seorang pelaku dosa besar asalkan dia seorang muslim. Dan bahwa Allah mungkin saja mengampuni dosa besar dengan amal yang kecil sebagai keutamaan.

Namun kepercayaan sementara kalangan bahwa kalau menabrak kucing harus menguburkannya dan kalau tidak akan celaka, jelas merupakan tahayyul dan kalau hal itu dipercaya, akan mengakibatkan syirik. Sebab kalau kita bandingkan dengan hukum pembunuhan atas nyawa manusia, kita mengenal pembunuhan yang disengaja (qatlul `amd) dan pembunuhan yang tidak disengaja (qatlul Khatha`). Selain itu ada juga pembunuhan yang seperti disengaja (qatlu syibhu 'amd). Pembunuhan nyawa manusia yang tidak disengaja misalnya adalah menabrak orang hingga mati. Dan tidak ada qishash pada kasus itu kecuali membayar diyat (tebusan).

Padahal dalam kasus tersebut, yang terbunuh secara tidak sengaja bukan manusia melainkan kucing. Sehingga tidak ada kewajiban qishash, diyat atau apapun. Kecuali bila kucing itu dimiliki oleh seseorang dan dia minta diganti harganya, maka harus diselesaikan sesuai dengan kesepakatan. Sebaliknya, bila kucing itu tidak ada yang punya, maka tidak ada kewajiban apapun kecuali membuang bangkai kucing atau membersihkan jalan itu dari bangkai kucing demi kelancaran lalu lintas. Bangkai kucing itu sendiri tidak wajib dikafani, tidak wajib dimandikan, tidak wajib dimandikan dan juga tidak wajib dishalati. Karena memang tidak ada masyru`iyah untuk semua praktek itu. Lagi pula bila sudah ada yang mengurusnya, maka orang yang terkena musibah itu tidak harus melakukannya sendiri.

Mitos ini berkembang karena masyarakat tidak punya landasan tauhid yang benar. Sehingga dengan mudah terasuki tathayyur yang salah seperti pada kasus kucing ketabrak. Tugas kita menjelaskan hal itu agar masyarakat tidak menjadi bulan-bulanan mitos yang bisa berakibat kepada kemusyrikan.

Wallahu a'lam bishshawab

Mencari Jati Diri Yang (Katanya) Hilang


Sejak lahir manusia telah dibekali Alloh dengan berbagai potensi, mencakup potensi fisik, ruhiyah, dan akal. Potensi-potensi tersebut secara fitrah cenderung menuju kea rah positif, namun demikian sebagai manusia kita juga dibekali hawa nafsu yang juga potensial untuk mengarahkan kita kea rah keburukan. Karena itu peran llingkuangan sangat besar dalam upaya mengoptimalkanpotensi-potensi tersebut. Sosok kepribadian yang tampil kemudian sangat tergantung dari sejauh mana manusia itu sendiri mengoptimalkan potensi-potensinya. Disinilah dibutuhkan kecakapan mengenal diri sendiri plus mengetahui potensi-potensi diri (kelebihan dan kekurangan), karena hal itu yang akan membentuk jati diri kita.

Ada tiga potensi seorang pemuda muslim yang harus dikembangkan dan dioptimalkan :
1. Potensi Jasmaniah
Seorang muslim mendayagunakan jasmani yang dikaruniakan Alloh dengan seoptimal mungkin.

2. Potensi Intelektual
Dengan potensi ini seorang pemuda muslim mengemban ilmu sebanyak – banyaknya agar dapat memecahkan berbagai problem social yang ada di sekitarnya, mampu membina generasi, dan menjadi sumber bertanya orang- orang sekelilingnya.

3. Potensi Mental Spiritual
Seorang pemuda muslim mampu mengenal Sang Pnecipta dan mengetahui hakikat hidup di dunia.

Sejalan dengan pengembangan dan pengoptimalan potensi-potensi yang ada, agar memiliki jati diri yang kuat serta kepribadian yang baik, maka kita perlu berusaha dan melakukan pembinaan-pembinaan diri, antara lain :

1. Pembinaan keimanan
Merupakan asas terbentuknya pribadi yang istiqomah, sehingga ia dapat merealisasikan :
• Hubungan yang kuat dengan Alloh
• Ketenangan hati, bebas dari stress dan depresi
• Ketabahan dalam menanggung beban dan menghadapi musibah
• Kesadaran untuk berada dalam jalan yang diridhoi Alloh

Cara membina keimanan :
• Mengikuti pengarahan-pengarahan rutin Rasululloh SAW
• Melaksanakan shalat (QS. 4:77 dan 73:1-6)
• Membaca Al-quran (QS. 8:2)
• Melakukan Shoum (QS. 2:183)
• Memperbanyak dzikir (QS. 32:41-43 dan 29:45)
• Melaksanakan ibadah berjamaah, dll

2. Pembinaan Inteletual• Ilmu Quran dan hadits
• Ilmu-ilmu lain seperti hokum, sastra, ekonomi, sosiologi, politik, pendidikan, kesehatan, psikologi, seni, dll.

Dengan ini pemuda muslim dapat:
• Memperbanyak amal saleh
• Menyeru kebaikan kepada orang lain
• Menghadapi tantangan zaman
• Meningkatkan nikmat hidup duniawi dan ukhrowi

Untuk itu pemuda muslim harus terus meningkatkan kemampuan intelektualnya dengan :
• Ikhlas dalam mencari ilmu yang bermanfaat
• Semangat yang tinggi dalam mencari ilmu
• Akrab dengan wahyu Alloh SWT
• Merenungkan ciptaan-ciptaan Alloh

3. Pembinaan Moral
Merupakan aktualisasi keimanan seseorang, karena berguna untuk :
• Menyempurnakan keimanan
• Menjaga kepribadian dari fitnah
• Merupakan contoh dalam pembentukan generasi yang diridhoi Alloh
• Merupakan daya tarik dalam menyeru masyarakat dalam kebaikan

Usaha yang dilakukan :
• Cinta bertadabbur Al-quran
• Cinta mengkaji Hadits
• Memahami kehidupan Rosululloh SAW
• Berupaya sungguh-sungguh mencontoh akhlak Rosulullloh

4. Pembinaan Fisik
merupakan hal yang jangan sampai diremehkan karena dengannya dapat mengoptimalkan pemanfaatan keimanan, intelektual, dan moral. Untuk itu perlu mengkonsumsi makanan yang baik dan halal, menghindari diri dari sebab-sebab yang melemahkan fisik, bersegera mengobati segala penyakit, dan melakukan riyadhoh rutin. 

Apakah Kita Masih Mau Berputus Asa?


 ALLAH Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa
Kebiasaan orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt. adalah berjalan-jalan di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.

Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.

"Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?"

Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.

Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.

Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."

Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. "Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku," ratapnya.

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, lalu dia pun meneruskan perjalanannya.

Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan dalam kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil."

Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.

Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telah memberikan nasihat itu.